Imam Tirmidzi Dan Seekor Semut

Sekitar 2,5 tahun lalu saya pernah cerita ini ke santri-santri saya ketika wiyatabhakti di pesantren, dimana cerita ini juga saya dapatkan dari ustadz Abu Umar Abdillah pimred majalah Ar-Risalaah sekitar 4-5 tahun lalu. Beberapa kali saya tulis dalam blog, namun blog-blog itu semua sudah wafat karena sewa domain dan hosting tidak dilanjutkan.

Sebuah kisah seru lagi inspiratif, kisah imam Tirmidzi dan seekor semut:

********************

Suatu waktu ketika imam Tirmidzi rihlah (Perjalanan) mencari riwayat hadits di kota yang jauh. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba beliau menghentikan langkah, matanya menjurus pada pemandangan yang menarik hati. Itu adalah semut, semut yang terengah-engah menggigit makanan sedang makanan itu lebih besar dari tubuhnya, betapa kuat makhluk Allah ini.

Tapi yang menarik saat itu bagi imam Tirmidzi bukan makanan tersebut. Melainkan… Sang semut menggigit makanan itu sembari memanjat dinding curam 90 derajat, beberapa kali beliau melihat semut jatuh, sementara makanan tetap digigit erat. Makhluq ini tetap bersemangat melewati diding curam  dan bersekaian kali pula dia terjatuh, tetap gigih memanjat diding tanpa melepas beban berat yang dibawanya, hingga akhirnya sang semut berhasil melewati peristiwa ini setelah berjuang keras penuh kesabaran.

Semut makhluq Allah yang kecil tersebut begitu menginspirasi imam Tirmidzi.

“Bila semut saja bisa begitu gigih melwati diding curam hanya demi makanan, mengapa aku tidak?”

Demikian beliau memacu semangat, gigih dan penuh kesabaran mengarungi lembah dan padang pasir untuk mencari hadits nabi, hingga dari semua itu tertulislah sebuah buku yang higga akhir ini manjadi pedoman hidup kita, Sunan Tirmidzi, termasuk salah satu dari kutubus sitta (Kitab hadits yang enam). Wallahu A’lam.

About Hamam Abidin

Ngeblog adalah hobi paling mengasyikkan sejak saya kenal internet. Menulis di blog lebih bermakna ketimbang menulis status di facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *