Puisi Sahabat, Rindu Dan Masa Lalu

Satu

Ai…

Sahabat

Berjuta rasa rindu dalam kalbu ini

Sudah luap, luber aliri anak kali

Masihkah kau ingat?

Sesaat, tiga ratus enam puluh detik waktu kita berjingkrak bersama

atau malam ketika hilang dari peredaran,

menerobos pagar batas santri manusiawi dan

susuri anak kali musiman.

Langkah kita yang dulu gegas kelanai malam

dijalanan dan kau berteriak hentikan laju sedan

“ngompreng pak… Ngompreng…” Duhai, mari kita senyumi

masa lalu itu.

Satu bataliyon santri berandal,

Mencari jati diri di posko-poski internet

atau sekedar lepas lelah diwarung-warung nasi kucing

Kulihat wajah bahagia kita yang disinari

cahaya lilin yang temaram.

Dua

Ai…

Syair ini barangkali hanya aku dan kau pahami.

Rindu, oh rindu

Kapan kan bersua,

diri ini mulai menua dimakan oleh waktu.

Tawamu riang, memecah cacah sunyi ibukota.

Jepara, bumi yang jadi saksi,

Walau diam, dirinya bersenyum masam lihat tetingkah

kita, sahabat.

Ini sudah jam duabelas malam

Jam dinding berderak, jarum detik berdetak.

Bahagia tak kenal malam dan siang, bahagia telah

membunuh rasa katuk.

Mari kita lanjutkan sandiwara ini.

Esok subuh kita pulang dan

kembali bertobat.

*Puisi ini bercerita tentang masa lalu kami anak-anak santri yang berandal, mengelanai malam dengan status turis illegal karena tidak mendapat visa dari bagian keamanan pondok pesantren kami. Masa yang tak patut dibanggakan, puisi ini cuma mengenangi bersama kerinduan kepada para sahabat. Mukdan, Ahmad, Nasih Ulwan, Agi, Hanif dan beberapa temen lagi yang sering kelayapan.

by Hammam 29 Juli 2014

About Hamam Abidin

Ngeblog adalah hobi paling mengasyikkan sejak saya kenal internet. Menulis di blog lebih bermakna ketimbang menulis status di facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *