Alur Cerita Film Dangal: Ketika Anak Gadis Jadi Penerus Impian Sang Ayah

Kisah ini diawali dari  Mahavir Singh Phogat mantan pegulat nasional India yang gagal meraih medali emas di kancah internasional, sejak itu dia merasa bersalah karena hanya memberikan perak untuk negaranya.

Bahkan ketika dia sudah berkeluarga, kekalahan itu masih terus menghantui. Kemudian ia mengatakan pada istrinya Daya Shobha Kaur yang tengah hamil tua bahwa sekalipun dia tak bisa mendapatkan medali emas, impian ini akan dilakukan anaknya kelak.

“Apa yang tak mampu kulakukan, Kelak anakku yang akan melakukannya.”

Sayang, ternyata sang istri melahirkan seorang putri, Mahavier mendesah tapi harapan besar itu belum padam, toh anak baru satu.

Ia dan istrinya berusaha keras mendapatkan seorang putra. Lagi-lagi, hamil kedua sang istri masih juga melahirkan anak cantik.

Mahavier dan sang istri semakin gencar berusaha, ia mendengarkan berbagai petuah orang tua bagaimana mendapat seorang putra, dari tips yang biasa hingga paling manjur dilakukan keduanya, demikian karena mantan pegulat itu teguh ingin memiliki penerus yang berdarah gulat dan memenangkan medali emas baginya.

Ada percakapan menarik antara Mahavier dan Daya saya kutip disini:

Aku tak bisa memberimu bayi laki-laki mas.”

Itu bukan kesalahanmu beb, dan juga jangan menyalahkanku. Mereka berdua Geeta dan Babita sangat kusayangi, tapi hanya anak laki-lakilah yang bisa mewujudkan impianku.

Waktu terus berlalu, Shobha Kaur melahirkan putri ketiga, momen ini akhirnya membuat mantan juara gulat nasional menguburkan harapannya, ia kemasi seluruh penghargaan masa muda yang selalu dipandangi.

Suatu sore Mahavier pulang dari kerja ada tetangga datang, protes karena kedua Geeta dan Babita menghajar babak belur kedua putra tetangga. Ia agak syok, bagaimana bisa putrinya bisa melakukan itu.

Ia mulai merasakan bahwa putrinya memiliki darah gulat miliknya. Ia putuskan, kedua putrinya menjadi pegulat…

Gambar: faddus.com

Kisah ini mulai menarik, bagaimana ia melatih dengan keras kedua putrinya yang baru belasan tahun, serta bagaimana syoknya masyarakat saat melihat Mahavier menjadikan putrinya korban pelampian karena tidak juga memiliki putra penerus, apalagi saat itu belum ada ceritanya wanita jadi pegulat, bagi masyarakat itu aneh,

“cewek kok gulat, mending didapur saja”

Tanpa peduli kasak-kusuk tetangga Geeta dan Babita terus ditempa, saking banyaknya cibiran, bahkan istrinya khawatir jika tetingkah putrinya sudah menyerupai anak laki-laki. Lama-lama keduanya bosan, ogah-oogahan jadi pegulat.

Suatu hari Geeta dan Babita diajak ibunda menghadiri pesta pernikahan tetangga bernama Sunita, ceritanya nikah muda yang biasa terjadi pada anak gadis desa. Ketika sang ayah tahu keduanya tidak latihan justru ke pesta, Mahavir marah besar, pesta itu disatroni. Keheboh pesta senyap seketika begitu pegulat itu menampar keponakannya yang juga ikut serta.

Geeta dan Babita kemudian curhat dengan pengantin pesta ini tapi apa jawaban Sunita?

“Setidaknya ayahmu memikirkan masa depanmu.”

 

“Jika tidak, takdir kita hanyalah sebagai seorang gadis dilahirkan, diajarkan masak dan bersih-bersih, memaksanya kerjakan seluruh tugas rumah tangga.”

 

“Kemudian ketiak dewasa ia akan dinikahkan untuk mengurangi beban keluarga dan memberikan tangannya pada lelaki yang sama sekali belum dikenal.”

 

“Melahirkan bayi beruang kemdian membesarkannya. Itu semua tugas seorang gadis.”

 

“Setidaknya ayahmu memandang kamu sebagai anaknya, dia bertarung melawan seluruh dunia, tak peduli semua ejekan padanya, mengapa?”

 

Supaya kalian berdua memiliki masa depan, apakah yang dia lakukan salah?”

Kalimat demi kalimat Sunita menohok Geeta dan Babita, malam ini menjadi malam dimana keduanya memiliki spirit dan jiwa dalam berlatih gulat.

Beberapa waktu berlatih, Mahavier mulai mendaftarkan Geeta dalam sebuah turnamen regional, lawannya laki-laki paling kuat.

Seseorang meminta Mahavier membatalkan laga, mengingat Geeta anak perempuan dan lawan yang dipilihnya sendiri pegulat pria terkuat. Sang ayah jutru bilang:

“Sebelum kau menjalani pertarungan sesungguhnya, kau harus lebih dulu mengalahkan rasa takut. Setidaknya Geeta telah mengalahkan rasa takutnya”

Pertandingan ini sangat sengit, meski akhirnya Geeta kalah tipis, tapi ini menjadi start awal pertandingan Geeta, selanjutnya ia selalu meraih prestasi. Kejuaraan demi kejuaraan diraih, awalnya seorang Geeta yang dicibir kini mulai dielu-elukan masyarakat.

Hindustantimes.com

Pertandingan Internasional dan Medali Emas

Seorang Geeta dan Babita kini sudah tumbuh dewasa, pada akhirnya sebagai atlit nasional Geeta harus berlatih di markas para atlit di New delhi (koreksi jika salah), dilingkungan baru justru serba bebas, tak seperti saat dilatih ayah yang banyak aturan dan larangan, walaupun prestasinya tetap terbaik.

Dan Babita tak kalah berprestasi, kendati tak banyak diceritakan, ia mengumpulkan berbagai penghargaan seperti sang kakak, hingga akhirnya menyusul ke asrama para atlit nasional wanita.

Geeta yang mulai bertanding di pertandingan internasional, mengalami masa yang buruk, beberapa kali kalah, dan akhirnya sang ayah memberinya banyak saran, termasuk agar tidak mengubah gaya tarungnya: menyerang, sementara pelatih memintanya bertahan.

Geeta kembali bersinar, di berbagai pertandingan berikutnya ia sukses mengalahkan berbagai lawan.

Pentas internasional Commonwealth Games telah tiba dan India sebagai tuan rumah. Pertandingan ini tidak terlalu sulit, di semi final ia bertemu pegulat Nigeria yang agresif, beruntung dia bisa mengalahkan pada detik-detik terakhir. Pada pertandingan final, ia bertemu musuh bebuyutan yang mengalahkannya 2 kali, dan KO di rode pertama.

Pertandingan kali ini tentu saja paling susah, bahkan sang ayah tak punya saran yang biasanya akurat, ayahnya hanya mengatakan

“bertandinglah dengan gaya yang membuat orang lain mengingatmu, jika kau hanya mendapat perak, cepat atau lambat kau akan dilupakan, jika kau meraih emas, kau akan jadi teladan.”

Begitulah, pertarungan pun terjadi, rode pertama dia unggul, rode kedua Angelia petarung Australia unggul, dibabak ketiga yang menentukan, Angelia mengantongi mayoritas 5 poin, sementara Geeta 1 poin, didetik-detik akhir dengan kesempatan yang hampir mustahil, ia berhasil knock out lawan hingga mendapat poin penuh 5 tepat saat pluit berakhir.

Juri memutuskan, Geeta pemenang gelar medali emas, sebuah sejarah bagi India yang berhasil ditorehkan di tahun 2010 (real story).

Demikian alur cerita film Dangal, emoga membantu kamu atas dari rasa penasaran ya.

About Hamam Abidin

Ngeblog adalah hobi paling mengasyikkan sejak saya kenal internet. Menulis di blog lebih bermakna ketimbang menulis status di facebook.

4 thoughts on “Alur Cerita Film Dangal: Ketika Anak Gadis Jadi Penerus Impian Sang Ayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *