Review Film Bulan Terbelah Dilangit Amerika 2015

Meski film ini sudah satu tahun lalu, karena baru biasa nonton hari ini ya saya bikin review saja sekalian.

Film religi yang diataptasi dari Novel ini bisa disebut sekuel dari 99 Cahaya di Langit Eropa buku best seller dan versi filmnya juga sangat sukses.

BTdLA 2015, kisah ini di mulai dari Hanum dan Rangga yang tak sengaja ditugaskan pada waktu bersamaan oleh masing-masing atasannya, Rangga dapat tugas dari Profesor membujuk mr Philipus Brown, seorang milyader Amerika agar mau diajak ke Wina untuk wawancara sebagai syarat calon gelar doktor Rangga, dan Hanum dapat tugas dari kantor berita tempat ia bekerja untuk mewancarai Azima Hussein yang diduga Muhammad Hussein suaminya salah satu bomber WTC, apalagi sang suami keturunan timur tengah, dan pekerjaannya sebagai relawan NGO terkait dengan Kabul, Afganistan, Iraq dan negara-negara perang kawasan teluk.

Film ini juga disuguhi hubungan menarik antara Rangga dan Stefan teman akrabnya sejak di Prancis. Yang saya sukai adalah canda-candaan keduanya serta jawaban lugas dan cerdas Rangga.

Dalam BTdLA tak lupa menyuguhkan bagaimana keadaan traumatis warga Amerika paska tragedi WTC juga kebencian mereka kepada hijab, muslim dan Arab. Tekanan yang luar biasa itu bahkan membuat Azima istri Muhammad Hussein mengganti namanya jadi Julia, ia menyembunyikan hijabnya dibalik wig  (rambut palsu) demi memudahkan pekerjaannya sebagai pemandu wisata di New York.

Julia dikenal sangat tertutup pada wartawan, tak mau wawancara prihal suaminya, Hanum yang ditugaskan mewancarai Julia awalnya kesulitan, tapi akhirnya berhasil membujuk, salah satu quote Haum yang membuat Julia luluh adalah berikut:

Islam yang berarti kedamaian justru membuat hidupmu berantakan, bahkan suamimu dianggap teroris. Kamu kehilangan kepercayaan sebagai muslim.

Dari wawancaranya Hanum menemukan pesan suara pesan terakhir sang suami via telfon saat tragedi WTC terjadi, Hussein juga sempat mengatakan bahwa ia ingin memberikan sesuatu kepada istrinya, tapi hingga saat ini Azima tak tahu pemberian apa yang dimaksud suaminya.

Sarah anak Hussein juga memberikan CD rekaman hadiah yang diberikan sang Ayah saat ulang tahunnya tepat sehari sebelum WTC meledak. Videonya berisi bagaimana sang ayah seseorang yang sangat penyayang.

Sementara Rangga melihat rekaman dari kuliah umum Mr Brown menjawab pertanyaan menarik Rangga, “Akankah Dunia lebih Baik Tanpa Islam” dari pidato itu Rangga menemukan nama Hassan sebagai seorang yang mengubah arah hidup Philipus Brown dan Morgan Stanway -kantor mr Brown.

Rangga mencari daftar korban tewas di gedung WTC kenyataannya tak ada nama Hassan, kemudian Rangga memeriksa CD yang diberikan Sarah pada Hanum, dan mengejutkan di bagian terakhir video itu menampilkan saat saat Hussein menerima telfon dari Kabul serta paket yang tertera jelas bertuliskan To Ibrahim Hussein Brown’s Morgan Stanway Project.

Dari dugaan Rangga, ternyata Hassan yang disebut dalam pidato Mr Brown adalah Ibrahim Muhammad Hussein sosok muslim yang diduga pelaku terorisme WTC.

Ending

Cerita semakin menarik, Rangga mengirimkan email ke Mr Philipus Brown foto Hussein, dari situ mr Brown baru tahu Hassan yang ia kira memiliki nama Ibrahim Hussein. Rangga pun mendapat balasan email berupa undangan di acara penerimaan Hero Of The Years, tentunya dia senang karena undangan ini sekaligus ia berkesempatan wawancara.

Brown pidato, acaranya disiarkan melalui TV, saat itu Julia dan Hanum yang tengah bersama turut menyaksikan. Jantung berdetak, air mata deras mengalir… Di saat mr Brown menyebutkan sebuah nama Hussein, seseorang yang harusnya paling layak mendapatkan penghargaan, karena telah menyelamatkannya, serta menyelamatkan orang lain hingga bahkan dirinya tak selamat dari tragedi.

Misteri akhirnya terkuak, keyakinan Sarah bahwa ayahnya bukanlah teroris terbukti malam itu. Mata Azima atau Julia berkaca-kaca penuh haru kebanggaan.

Hanum tak kalah kaget, dabeak… Ia segera mengajak Azima dan Sarah segera menemui mr Philipus Brown… Ketika bertemu, Brown mengajak Azima maju ke podium, dan ia memberikan titipan Hussein pada Azima sebelum WTC luluh lantak.

Pemberian terakhir Hussein pada Azima yang dititipkan pada Philipus Brown

 

Adegan dimana stefen yang ditinggal pacarnya dalam keadaan hamil, hasil hubungan keduanya. Stefen tak berani berkomitmen menikah.

Dan… Cerita ini berakhir, meski ada bagian yang tidak saya ceritakan seperti hubungan stefen dengan pacarnya yang tinggal bersama tanpa status menikah, dan beberapa konflik antara Rangga dengan Hanum.

Cerita dalam film ini menurut saya sangat bagus apalagi diadaptasi dari novel best seller, dari sisi cinematic juga menunjukkan film Indonesia yang berkelas.

Akting Abimana sebagai Rangga juga betul-betul saya kagumi kharismatik dan  diplomatis saat berbicara , serta bagaimana akting keras kepalanya si Acha sebagai Hanum. Saya rasa keduanya telah mendapat chemistry dengan begitu baik.

Akhir kata, memang sangat layak jika film ini mendapat sambutan yang luar biasa di tanah air.

Dan Kabarnya Film ke 2 Bulan Terbelah di Langit Eropa 2016 yang diluncurkan desember 2016 kemarin juga menuai kesuksesan. Barakallah untuk Mas Rangga dan mbak Hanum Rais, semoga tulisan-tulisannya menginspirasi wajah perfilman di Indonesia menjadi lebih mendidik dan  agamis.

Source pict: muslimahdaily.com

About Hamam Abidin

Ngeblog adalah hobi paling mengasyikkan sejak saya kenal internet. Menulis di blog lebih bermakna ketimbang menulis status di facebook.

2 thoughts on “Review Film Bulan Terbelah Dilangit Amerika 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *