Pengalaman Pertama Kali Ditilang Pak Pol

Gambar: tibratanews.com

Jujur saja ya, dulu saya saat berkendara tiba-tiba didepan ada polisi deg-degan, jantung terpacu lebih cepat. Ya, liat 👮 polisi walaupun cuma sekedar mengatur lalulintas itu kayak melihat penjahat siap merampok duit. Setidaknya itulah yang terjadi di masyarakat kita.

Itu dulu saya saat belm punya SIM dan pajak motor milik orang tua sejak pertama kali dibeli, wajar kalau polisi adalah musuh saya ketika dijalanan.

Beberapa kali insiden razia saya selalu lolos dengan berbagai metode berbeda, pernah di Purwodadi, kebetulan goncengin temen yang harusnya memiliki SIM, sementara saya saya belum punya. Tiba-tiba ditikungan ada razia, untungnya pak polisinya baik membiarkan kami pergi, karena teman saya bersurat lengkap. Itu awal saya ditilang, mendebarkan dan alhamdulillah lolos.

Tapi, kemarin hari senin 17-04-2017 emang sudah takdir kali ya, biasanya saya bawa surat-surat lengkap dalam dompet, kali ini dompet ketinggalan. Sementara didepan sana polisi melambai-lambai di depan kantor polres Surakarta.

Haish… Ya sudah pasrah, maju tak gentar. 

“Selamat siang, tunjukkan surat-suratnya mas”

“Waduh pak, ketinggalan. Gimana kalo saya ambil, tempat saya deket sini kok (sekitar 200 meter), di masjid Kottabarat”

“Itu nanti, yang penting maju situ dulu mas” polisi menunjuk tempat penilangan.

“Plis pak, dompet saya ketinggalan, cuma deket situ, biar saya ambil ya”

“Okelah, kuncinya biar saya pegang”

Yeah, saya coba memburu waktu menuju asrama, berjalan cepat menuju masjid kottabarat.

“Eh mas Hamam, adzan ya pak Yadin (Muadzin masjid Kottabarat) lagi berhalangan” Kata bu Darmi istri pak Yadin.

Ini jam 3 sore saya harus adzan, di sisi lain harus segera dapatkan dompet juga. Tapi nasib baik mungkin lagi tidak memihak. Usai adzan saya coba geledah berbagai sudut kamar tak kunjung temukan dompet keberuntungan, dilanjutkan ba’da shalat masih juga belum. Akhirnya tertangkap basah di ranjang temen yang saya tiduri semalam (temen lagi pulang kampung) setelah jam 4 sore lebih.

Kembali ke kantor polisi sudah keadaan sepi, dalam hati sudah menduga apa yang akan terjadi. Rupanya memang pemegang kunci motor saya sudah pulang, kantor semi-tutup, so dipertemukan dengan pak pol entah siapa namanya dengan ending cerita yang menyesakkan, saya ditilang walau sudah saya tunjukkan kelengkapan surat, tidak ada toleransi pada drama dompet ketinggalan.

Pertama kali ditilang pak pol
Oleh-oleh dari kantor polres Surakarta: surat tilang

Sebelum pergi polisi tua itu menawarkan untuk nitip transfer ke pengadilan, dengan biaya 300 rb, keuntungan tanpa antri pengambilan SIM yang ditahan. 

“Nanti kalau ada sisa saya kembalikan” kata pak pol sambil menulis nomer kontak saya.

Maaf pak, tawaran ditolak penawaran harga terlalu tinggi, dan saya tidak suka suap-menyuap terselubung.

Setidaknya ini adalah pengalaman pertama kali ditilang dan berakhir di pengadilan.

About Hamam Abidin

Ngeblog adalah hobi paling mengasyikkan sejak saya kenal internet. Menulis di blog lebih bermakna ketimbang menulis status di facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *