Kasus Ahok Dan Dampaknya Untuk Ummat Islam

Kasus Ahok Dan Dampaknya Untuk Ummat Islam

Sudah lama saya ingin tulis tema ini [Kasus Ahok Dan Dampaknya Untuk Ummat Islam], cuma selalu tertunda oleh berbagai halangan. Kasus Ahok adalah kasus besar dan berdampak besar bagi Indonesia khususnya kaum muslimin dan umumnya Indonesia.

Soal Ahok salah atau tidak itu sudah jelas, dan pengadilan juga sudah memberikan hukuman yang cukup bagus. Meskipun sebelumnya dipenuhi berbagai adegan drama. Bahkan indikasi presiden melindungi Ahok selaku mantan wakil gubernurnya dulu saat menjabat gubernur Jakarta sama-samar terlihat. Bukan itu saja, para menteri seperti Luhut juga ikut sibuk menghadapi tuntutan kepada Ahok, itu terjadi jelas saat Ahok melontarkan kata-kata kasar terhadap Kyai Amin Ma’ruf.

Ok, saya sudahiĀ persoalan itu, selanjutnya membahas sisi lain kasus penodaan agama oleh Ahok membawakan dampak positif bagi umat islam dan aktifis.

1. Persatuan kaum muslimin

Begitu video di pulau seribu yang menjadi viral, langsung boom. Ulama’-ulama’ yang memiliki ghirah atau kecemburuan memberikan responnya, terutama ulama yang biasa berinteraksi di media sosial menyampaikan pernyataan dan keberatannya seperti Aa Gym, Ust Arifin Ilham, Ust Yusuf mansur, Ust Bakhtiar Nashir, Habib Rezieq dan lainnya. Sebagian kyiai yang memiliki lembaga atau pondok pesantren juga mengecam ucapan ahok memalui ceramah, media website lembaga atau juga media sosial.

Umat pun tak kalah geram, dari berbagai ormas islam terutama NU dan Muhammadiyah (meski secara organisasi NU tidak tegas atas tindakan kriminal Ahok dan Muhammadiyah juga hati-hati dalam mengeluarkan himbauan) yang saya ingat Solo adalah salah satu dearah yang paling cepat bergerak menggelar aksi demo bela islam sebelum 4 november atau 2 Desember.

Ulama bersuara, aktifis islam bersuara, aktifis cyber muslim juga bersuara, berlanjutan para jamaah islam juga bersuara menggalang aksi demi aksi, tak cuma di Jakarta, tapi juga diberbagai daerah berbagai pulau.

Saya sebagai alumni 212 tentu turut menangis haru, tidak saja lautan muslimin bahkan ada juga non islam dari berbagai masyarakat dunia. Bersatu di monas, dimana yang menghadiri diperkirakan 7 hingga 10 juta insan. Monas penuh, bunderan, Masjid Istiqlal dan dibeberapa titik jakarta pusat juga full dihujani kaum muslimin.

2. Persatuan Ulamanya

Sebelum ini gaung perselisihan antar asatidz dan kyiai masih cukup sentar. Perbedaan fikih membuat ulama dan jamaahnya terpecah, sesama muslim jika tidak satu pendapat mereka saling menghujat.

Tapi kasus penodaan agama ini membuat ulama mencapai satu kata, membela islam. Meski ada beberapa cendekiawan dan kyai yang berada di pihak Ahok, yakinlah itu hanya 1 banding 10.000, dan kebanyakan mereka adalah memiliki pemikiran liberal.

3. Memahami sisi lain demokrasi (bagi sebagian golputer).

Adalah suatu fakta jika tiap kali pilkada, golongan putih (golupt) selalu memiliki jumlah yang cukup besar. Dengan berbagai motif yang melatar belakanginya. Adakalanya karena masing-masing calon tidak bisa diharapkan, pinokio, tampang korupsi, dan banyak pula yang golput karena anggapan Demokrasi itu haram.

Ulama yang mengharamkan melihat karena bagi negara demokrasi hukum yang tertinggi bukan hukum islam melainkan konstitusi, dan ini bertentangan dengan ajaran islam yang menerapkan sistem khalifah dan menggunakan Al Qur’an, Assunnah dan Ijtihad ulama sebagai landasan hukum.

Namun sejak kasus era paska Jokowi-Ahok menjadi gubernur Jakarta, lebih-lebih di kepemimpinan Ahok atas Jakarta dan saya yang tinggal di Solo juga melihat hal serupa (Walikota Solo non muslim) perspektif asatidz dan aktifis muslim terhadap demokrasi mulai mengarah pada hal yang berbeda. Banyak yang menerima demokrasi sebagai wasilah dakwah, meski masih banyak juga yang berpegang pada prinsip lama.

4. Demo Paling Ajaib Sepanjang Masa

ABI 212 (Aksi bela islam 212) adalah fenomena demo paling ajaib yang pernah terjadi Dunia, dimana pesertanya jutaan namun tetap bejalan damai, tentram dan menggetarkan jiwa.

Kasus Ahok Dan Dampaknya Untuk Ummat Islam

Hal ini tak terlepas dari jasa para wartawan dan media mainstrem yang seringkali tendensius dan curiga terhadap aksi-aksi keislaman. Media minstrem sangat sinsitif terutama terhadap negative-action aktifis muslim, contohnya demo 4 November, meski itu sebenarnya berjalan aman dan tertib, media mainstrem seperti Kompas dan Metro TV suka mencari hal-hal negatif sampai hal-hal terkecil misal soal sampah dan bentrok yang terjadi di aksi 4 November 2016.

Kritikan-kritikan tersebut menjadikan umat islam makin dewasa dan waspada. Sebab itu terciptalah kedamaian dan kesejukan di aksi 212.

Aksi 212 berjalan damai, berbagai titik demonstrasi bersih dari sampah, tidak terjadi pengrusakan taman, aparat dan TNI bahu membahu bersama demonstrasi menciptakan keadaan yang kondusif. Para ulama yang memimpin jalannya aksi juga luar biasa.

About Hamam Abidin

Ngeblog adalah hobi paling mengasyikkan sejak saya kenal internet. Menulis di blog lebih bermakna ketimbang menulis status di facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *